

Jum, 29 Mei
|Margin Library & Third Space
Katalog: 9808 Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia (2008) | Film Screening + Discussion with Prima Rusdi
Film screening by Kinosaurus, followed by a discussion with the Co-Initiator, Prima Rusdi.
Time & Location
29 Mei 2026, 14.00 – 17.00
Margin Library & Third Space, Jl. Pejaten Barat Raya No.10, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540, Indonesia
About the event
Katalog is a library microcinema at Margin Library, with films curated by Kinosaurus. This programme is the flagship of Margin and Kinosaurus, held on the last Friday and Saturday of each month, pairing general screenings with an in-depth discussion on a chosen topic, connecting as closely as possible to Margin's periodical theme.
About the Film
Title : 9808 Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia
Directors : Anggun Priambodo, Ariani Darmawan, Edwin, Hafiz, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi, Otty Widasari, Ucu Agustin, Steve Pillar Setiabudi, Wisnu Surya Pratama
Year : 2008
Duration : 115 mins
Language : Bahasa Indonesia
Age Classification : 15+
9808 Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia
9808 An Anthology of 10th Year Indonesian Reform
Sutradara: Anggun Priambodo, Ariani Darmawan, Edwin, Hafiz, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi, Otty Widasari, Ucu Agustin, Steve Pillar Setiabudi, Wisnu Surya Pratama
115 menit | 2008 | Indonesia | Fiksi, Dokumenter | B. Indonesia (with English subtitle) | Digital | 15+
Sejumlah pekerja film dari beragam latar belakang (dokumenter, feature, film pendek, dll), musisi dan pekerja seni lainnya bergabung secara swadaya untuk memperingati satu dekade reformasi (1998-2008) dengan membuat sejumlah film pendek yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Mei ‘98. Proyek ini ditujukan sebagai upaya membuka dialog terutama dengan kalangan muda (pelajar/mahasiswa, umum) mengenai penolakan untuk melupakan sejarah serta pemberdayaan masyarakat untuk menyampaikan sesuatu (dalam hal ini melalui medium audio visual). Proyek ini mengumpulkan antologi sepuluh film pendek dari genre yang beragam dan diproduksi secara mandiri oleh kru yang terpisah.
—
Di mana Saya?
Where was I?
Sutradara: Anggun Priambodo
Ada di mana diri Anda pada bulan Mei sepuluh tahun silam (1998)? Melalui Di mana Saya?, Anggun Priambodo menelusuri kisah sejumlah ‘orang biasa’ setelah satu dekade reformasi berlalu melalui foto-foto mereka saat sedang berada dalam beragam kegiatan saat itu.
—
Sugiharti Halim
Sutradara: Ariani Darmawan
Apa artinya sebuah nama? Bagi Sugiharti Halim, ternyata nama berarti sejumlah pertanyaan panjang. Kadang kocak, kerap menjengkelkan, dan yang jelas penuh kontradiksi: Apa benar seseorang perlu nama ‘asli’? Apa betul nama bisa dijual? Apa iya identitas bisa disamarkan di balik sebuah nama? Sugiharti Halim menawarkan sebuah cara pandang yang jenaka, ‘nyelekit’, sekaligus kontekstual untuk ditilik lagi hari ini.
*) Keppres nomor 127/U/Kep/12/1966 mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia (contoh: Liem menjadi Halim, Lo/Loe/Liok menjadi Lukito dll).
—
Trip To The Wound
Sutradara: Edwin
Suatu malam, saat menaiki sebuah bus, Shilla berjumpa dengan Carlo. Shilla adalah seorang kolektor. Ia mengoleksi kisah-kisah di balik bekas luka. Carlo tak akan bisa melupakan perjalanan itu.
—
Bertemu Jen
Meet Jen
Sutradara: Hafiz
“Hidup telah memberikan banyak waktu, tapi gue tidak pernah memanfaatkan waktu itu untuk hidup gue.” Jen adalah orang biasa yang punya mimpi dan cita-cita. Tapi waktu telah banyak menggerus diri Jen. Banyak yang terlewatkan. Namun, apa yang sebenarnya dilakukan Jen dalam sepuluh tahun terakhir? Perubahan rezim tak banyak mengubah hidupnya. Peristiwa sepuluh tahun silam hanyalah kenang-kenangan visual seperti saat dia hadir di hadapan Jen. Kenangan itu hanya menjadi ‘film’ ingatan tentang sebuah peristiwa.
—
Huan Chen Guang
Happiness Morning Light
Sutradara: Ifa Isfansyah
Chen Guang adalah perempuan China berusia 21 tahun dan tinggal di Beijing. Ibunya yang orang Indonesia meninggal pada saat terjadi kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Lalu Chen Guang pergi ke Korea, tujuannya adalah ingin menutup kenangan buruk yang selalu ada di dirinya dengan sebuah kenangan yang indah.
Hari pertama di Korea Chen Guang bertemu dengan Huan, yang juga seorang perempuan China sebayanya yang sudah lama tinggal di Korea. Kemudian mulailah perjalanan dua perempuan tersebut. Setelah seharian menghabiskan waktu bersama, Chen Guang dan Huan menginap di sebuah motel kecil di kota Busan. Mereka tidur di salah satu kamar motel itu. Hampir tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Paginya, Chen Guang memutuskan untuk pulang ke Beijing karena merasa sudah memperoleh apa yang ia cari, kebahagiaan.
—
A Letter of Unprotected Memories
Sutradara: Lucky Kuswandi
Lucky Kuswandi mengajak kita serta ke dalam sebuah perjalanan personal yang dialaminya ketika Imlek kini menjadi ‘tanggalan merah’. Perayaan hari istimewa itu senantiasa membawanya kembali ke masa kecilnya saat perayaan Imlek masih dilarang, dan beragam keunikan perayaan Imlek di kalangan terdekatnya, baik dulu maupun sekarang, serta pertanyaan besar yang terus diajukannya tiap kali Imlek tiba.
*) Selama 33 tahun, perayaan Imlek dilarang di Indonesia berdasarkan Inpres No. 14/1967, yang baru dicabut melalui Keppres No.6/2000 di masa kepresidenan Gus Dur dan diperkuat dengan Keppres No. 19/2002 di masa kepresidenan Megawati yang meresmikan perayaan Imlek sebagai salah satu hari libur nasional.
—
Kemarin
Yesterday
Sutradara: Otty Widasari
Masa muda, perkawinan kematian, kelahiran, tumbuh dan berproses serta ‘makan dan mencari makan’, merupakan siklus alamiah kehidupan di bumi. Jangka waktu sepuluh tahun ditarik dan dimasifkan menjadi satu bingkai sebuah autobiografi.
—
Yang Belum Usai
The Unfinished One
Sutradara: Ucu Agustin
Ibu Sumarsih adalah ibu dari Wawan, salah seorang mahasiswa yang menjadi korban Tragedi Semanggi 1. Sejak tewasnya Wawan, Ibu Sumarsih tak henti menuntut keadilan hingga kini. Ibu Sumarsih sudah bertekad untuk melanjutkan perjuangan putranya demi tegaknya supremasi hukum di negeri ini. Akankah ia berhenti?
—
Sekolah Kami, Hidup Kami
Our School, Our Lives
Sutradara: Steve Pillar Setiabudi
Pembuat film dokumenter Steve Pillar Setiabudi (Pilar) awalnya hendak menguji kadar kesadaran politik para subjeknya yang masih belia, murid-murid kelas tiga SMA yang akan segera menapak ke Perguruan Tinggi juga menjadi para pemilih di PEMILU 2009.
Dalam perkembangannya, para murid kelas tiga di sebuah SMA di Solo ternyata tak hanya bermimpi di siang hari tanpa melakukan apa-apa untuk mewujudkan perubahan, mereka dengan cara yang matang dan sistematis berhasil mengumpulkan sejumlah bukti praktik korupsi yang selama ini berlangsung di sekolah mereka. Dan inilah titik balik bagi para remaja itu dalam memahami di mana letaknya masa depan yang lebih baik bila bukan di tangan mereka sendiri.
—
Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran
Chronicles of a (former) Demonstrator
Sutradara: Wisnu Surya Pratama
April 1998 – Wisnu ‘Kucing’ Surya Pratama dikenal sebagai salah satu aktivis KA KBUI (Kesatuan Aksi Keluarga Besar UI). Dia adalah koordinator acara Posko KA KBUI yang mengatur jalannya hampir semua aksi demonstrasi KBUI dari awal sampai akhir. April 2008 – Seorang Wisnu sekarang telah menjadi bapak, pekerja film freelance, suami dengan segala kesibukan pribadinya. Masih adakah sisi demonstran dalam dirinya?
Speaker: Prima Rusdi
About the Discussion
This anthology was released in 2008, commemorating 10 years of Reformasi 1998 in Indonesia. What was the spirit behind this group of filmmakers in producing such an anthology? It must have required significant resources to create 10 short films, especially back in those days where resources (financial, technical) were more scarce. And perhaps even more so politically. Was there a sense of urgency that drove them to take those risks? If so, what was it? What strategies or tactics were used to pull off the production?
And to bring that context into the present, especially in conversation with students: this anthology model could be an interesting model for them to try—collecting a series of existing short films made by their peers and shaping them into an omnibus. What challenges might they face? What sense of “urgency” could drive them to produce it? And what can they learn about the differences between the challenges faced in the past, with those of today?
Tickets
Single Admission
From Rp 50.000 to Rp 75.000
Rp 75.000
+Rp 1.875 ticket service fee
Rp 50.000
+Rp 1.250 ticket service fee
Total
Rp 0
