

Min, 27 Sep
|Margin Library & Third Space
Katalog | Shorts Compilation: Who Am I To You? (2024) | Sunday Film Screening + Filmmakers Discussion
A film screening by Kinosaurus + filmmakers' discussion.
Time & Location
27 Sep 2026, 13.00 – 15.00
Margin Library & Third Space, Jl. Pejaten Barat Raya No.10, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540, Indonesia
About the event
About the event
Katalog is a library microcinema at Margin Library, with films curated by Kinosaurus. This programme is the flagship of Margin and Kinosaurus, held on the last Friday and Saturday of each month, pairing general screenings with an in-depth discussion on a chosen topic, connecting as closely as possible to Margin's periodical theme.
About the Film
2024 | 77 menit | 17+
Siapa kita ketika tidak ada yang melihat dan apakah kita masih menjadi diri yang sama ketika ada yang melihat? Kompilasi ini mengumpulkan film-film tentang celah antara persona dan diri. Politisi yang berkampanye sambil kehilangan topengnya, aktor yang menjaga citra publik, dua teman yang mempertanyakan arti persahabatan dari jarak waktu, tiga anak menelepon kawannya yang sudah lama mereka tidak hubungi untuk menemukan bahwa persahabatan punya bentuk yang berubah, dan laki-laki yang menghancurkan tubuhnya untuk menjadi seperti idolanya. Semuanya disatukan dalam pertanyaan yang sama. Apakah ada diri yang “asli” di balik semua penampilan? Jikalau ada, apakah dunia ini memberi cukup ruang untuk diri itu bernafas?
More Pain More Gain
Sutradara: Yusgunawan Marto
11 menit | 2024 | Indonesia | Dark Comedy, Body Horror, Satire | B. Indonesia (English subtitle) | Digital
Di Krakatau Gym, sekelompok pria berlatih dengan segenap tubuh dan jiwa. Mereka memiliki satu impian yang sama: diakui oleh Johny Krakatau, sosok idola bak nabi yang menurut cerita, telah melampaui seluruh batas kemampuan fisik seorang pria.
Jati percaya kalau dirinya adalah orang yang paling layak untuk menjadi bagian dari jemaat Johny Krakatau. Ia menantang Abe, rival abadinya, untuk membuktikan bahwa dirinya adalah pria terkuat di gym.
Namun, ketika Jati gagal mengalahkan Abe dan ligamennya robek parah, ia belajar melalui rasa sakit bahwa menjadi pria sejati bukan soal kekuatan, melainkan kemauan untuk terus bertahan menghadapi penderitaan.
Dengan perut dipenuhi minuman protein merek Johny Krakatau, Jati nekad mengangkat beban yang lebih berat meski dalam keadaan cedera. Sementara itu, tak mau membiarkan Jati merebut kejayaan, Abe ikut menambahkan beban yang lebih berat lagi.
Maka dimulailah kompetisi pamungkas untuk membuktikan siapa pria sejati. Keduanya terus memaksakan diri, hingga tubuh mereka hancur, organ-organ mereka robek, dan batas antara kekuatan, keyakinan, dan kegilaan pun kabur.

Yusgunawan Marto
Dibesarkan dalam keluarga pebisnis, sejak kecil Yusgunawan diajarkan bahwa kesuksesan diukur dari seberapa besar penghasilan seseorang dan seberapa banyak pencapaian yang diraih di usia muda.
Namun, tekanan untuk selalu memenuhi ekspektasi tersebut justru membawanya pada film-film klasik Hollywood sebagai sebuah medium pelarian, tempat di mana sosok underdog sering kali keluar sebagai pemenang.
Setelah lulus dari Art Institute of Houston pada 2013, Yusgunawan merasa bahwa ia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup jika terus menempuh jalur yang idealis. Ia pun memutuskan untuk terjun ke dunia periklanan. Namun, lingkungan penyutradaraan iklan yang sangat kompetitif dan penuh tekanan perlahan membuatnya kelelahan.
Dari pengalaman tersebut ia mendapatkan inspirasi untuk membuat More Pain More Gain. Meski hingga kini masih membuat iklan sebagai mata pencaharian, Yusgunawan berharap film ini menjadi langkah pertama dari banyak film yang akan ia tulis dan sutradarai. Film-film yang jujur, kasar, dan menggugah, namun tragis dan mengiris hati.
IYKYK
Sutradara: Natania Marcella
19 menit | 2024 | Indonesia | Drama | B. Inggris & Indonesia (English subtitle) | Digital
Mia dan Bea saling tahu, tapi hanya dari jauh. Dalam sempitnya mobil yang diam, satu dua patah kata mematahkan canggung mereka dan mengungkap mimpi terdalam mereka. Dan rasa hangat dan nyaman bukan satu-satunya hal yang tumbuh di hati keduanya.

Natania Marcella
Natania adalah filmmaker independen asal Surabaya dengan fokus kepada kisah-kisah queer dan perempuan. Terinspirasi oleh kekuatan sosial dan emosional film, ia juga menulis tentang film dan bercita-cita untuk membuat lebih banyak film tentang ragam pengalaman manusia dengan pendekatan minimalis dan personal.
Firman Firman
Sutradara: Kurnia Alexander
19 menit | 2024 | Indonesia | Drama | B. Indonesia (English subtitle) | Digital
Firman, seorang aktor gay, berupaya untuk menjaga persona "straight"-nya ketika menjalani sesi wawancara bersama lawan mainnya, Ayas, untuk film terbaru mereka. Namun, ini terbukti sulit ketika pertanyaan yang dilontarkan kepada Firman semakin lama semakin menekan identitasnya.
Semuanya memuncak ketika pendiriannya atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan rekan sesama aktornya, Joni, kepada salah satu kru mereka, Kenny, seorang makeup artist transpuan, dipertanyakan.
Firman pun dihadapi dilema: apakah dia harus membela teman sesama kwirnya, Kenny, dengan risiko ketahuan sebagai gay atau diam saja dan menyelamatkan personanya?

Kurnia Alexander
Tumbuh besar dengan rutin menyewa VCD di rental bersama ibunya, Kurnia Alexander menemukan validasi, inspirasi, dan teman dari film. Dari sana, tumbuhlah keyakinan, atau mungkin delusi, bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang pembuat film dan bisa membagikan perasaan yang sama kepada orang lain.
Film-film pendeknya telah ditayangkan di berbagai festival lokal dan internasional, termasuk Dan Bahagia (nominasi Piala Maya untuk Film Pendek Terbaik), Firman Firman (Short Shorts Film Festival & Asia), serta Yuck & Yum! (Balinale), semuanya konsisten mengangkat kisah para underdog dan kaum marjinal. Kurnia bertekad untuk senantiasa melanjutkan kariernya dalam jalur tersebut. Harapannya, karya-karyanya akan dapat membantu orang lain—dan dirinya sendiri—merasa tidak sendirian.
Serious People?!
Sutradara: Imaji Fabiandava
12 menit | 2024 | USA | Docu-Fiction | B. Indonesia (English subtitle) | Digital
Menjelang Pemilu 2024, Leo Tirtayasa bertolak ke New York dengan ambisi meraih dukungan diaspora Indonesia. Di tengah kampanyenya, seorang jurnalis terus membuntuti dan merekam setiap langkahnya.

Imaji
Imaji adalah filmmaker dan penulis yang berbasis di antara Jakarta dan New York. Lulusan Pratt Institute, ia telah bekerja di industri film Indonesia sebagai asisten sutradara dan kini mengembangkan praktiknya sebagai penulis-sutradara.
Ia suka mengambil hal-hal yang jadi lazim buat orang, lalu bertanya: kok bisa gini?. Karyanya mencari lelucon yang bersembunyi di balik kontradiksi, dan kontradiksi yang bersembunyi di balik lelucon. Ia membuat film tentang Indonesia sebagaimana adanya, sebagaimana kita pura-pura adanya, dan sebagaimana tidak semestinya.
Karyanya termasuk "Serious People", yang ditayangkan di JAFF NETPAC 19 (2024), dan "Wrap Me in Plastic", kolaborasi dengan Doa Ibu Frameworks, yang saat ini berada dalam tahap distribusi. Ia juga menjadi penulis "Tendangan Bebas", yang dipresentasikan di Jakarta Film Week 2026.
Are We Still Friends?
Sutradara: Al Ridwan
16 menit | 2024 | Indonesia | Documentary | B. Indonesia, Jawa, Makassar (English subtitle) | Digital
Tiga orang laki-laki diminta untuk menelpon teman masa kecil yang sudah lama tidak mereka hubungi. Perbincangan mereka merefleksikan memori, perasaan, dan persahabatan itu sendiri.

Al Ridwan
Al Ridwan (lahir 2004) adalah seorang sineas yang banyak berkarya sebagai produser, sutradara dan komposer. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan di Program Studi Film dan Televisi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Film dokumenter perdananya, Are We Still Friends?, yang bermula sebagai proyek tugas akhir semester, terpilih dan meraih Special Mention pada QCinema International Film Festival ke-12 di Filipina, serta berbagai festival lainnya.
